QPE

QPE

Minggu, 21 Juni 2020

Minum Membawa Luka: 5 Menit Penuh Ketegangan

Baru banget kejadian. Hari ini. Tepat 21 Juni hampir pukul 21.00 WIB.

Sebentar, sebelum dilanjutkan, peringatan untuk single-lillah di luaran sana supaya jangan takut menikah 😅. Ini hanyalah sekelumit kisah rumah tangga ketika sudah dikaruniai buah hati. Tak melulu bahagia, tapi kita tetap harus waspada dan bersyukur pada-Nya.

Lanjut...

Malam ini suasana begitu hectic. Anak-anak yang sudah 'memberikan alarm' pertanda mereka lapar. Alarm berupa:

"Aa lapar!"
"Dedek mau makan..."
"Aa mau nasi kecap!"
"Dedek juga!"

Diucapkan oleh dua anak kecil bergantian. Repetitif. Mengintimidasi Ambu yang hendak sisiran karena baru saja selesai mandi. Seharian baru mandi?
Patut diapresiasi. Pernah kok sampai berhari-hari. *jangan ditiru

Nun jauh di dapur sana (oke, ini hiperbola 😂) ada Abah yang tengah 'pakepuk' memasak mie rebus sisa siang tadi. Kuah baksonya habis. Tak ada bumbu yang bersisa. Dengan sok ide Abah bikin mie goreng. Kecap asinnya berasa. Ditumis pakai red onion yang jarang kami beli karena harganya yang cukup tinggi. Raut wajahnya menyiratkan kelelahan. Pun dengan hasil masakan yang kira-kira hanya cukup untuk satu porsi orang dewasa.
"Jadinya cuma sedikit...", ucap Abah dengan lirih.
Lalu Ambu berinisiatif untuk mengambil se-centong nasi hangat.
"Ambu sih makan mie gorengnya pake nasi, Bah."
Wow!
Double Carbo!
Malam-malam!
Tak mengapa. Sebagai ikhtiar Ambu yang puasa romadhon kemarin membuat bobot diri mencapai angka empat puluh satu kilogram. Masih butuh sekitar empat kilogram lagi untuk mencapai standar ideal versi suami tercinta.
"Abah juga ah makan pakai nasi...", ujarnya penuh semangat.
Baiklah, kami malam itu menjadi pasutri yang makan (terlalu) malam dengan nasi dan mie. Hmm... Kayaknya ditambah minum jus alpukat would be great! 😂




Kami makan terburu-buru. Dynamic Duo yang sedari tadi tengah menyantap nasi kecap mulai menghampiri kami. Hah?
Apa mereka masih lapar?
Bisa jadi. Bisa jadi mereka hanya ingin mengintimidasi orangtuanya yang mencoba syahdu saat makan malam. Obrolan di meja makan ala pasutri di sinetron Ind*siar?
Fiktif belaka.
Kami sibuk mengunyah sembari menenangkan dua buah hati kesayangan. Si Cikal merongrong pada Abahnya minta disuapi. Si Kicik yang menyodorkan garpu pada Ambunya minta sepotong bakso. Sebentar. Mereka tadi minta nasi kecap sampai nambah tiga centong. Mungkin itu semacam appetizer bagi mereka.

Jam segini anak-anak sudah harus melakukan ritual di malam hari. Sikat gigi, cuci tangan dan kaki, serta pipis agar dini hari tak membasahi kasur dengan air seni. Aa yang 'sungguh menghibur' karena siang ini dia skip tidur. Serba salah. Dia bilang celananya penuh remah-remah nasi. Dengan rengekan, dia minta ganti celana piyama yang sebelumnya sudah matching bergambar fauna antara lain gajah dan jerapah. Kini berganti dengan celana piyama orens. Kau memakai piyama dengan merek yang berbeda, Sayang. Atasan L*ttle Q dan bawahannya L*bby. Tapi tak mengapa. Toh sama-sama baju tidur, kok. Ambu merasa terganggu?
Itu masalah Ambu sendiri, tak usah dibesar-besarkan lah, Mbu.

Dedek yang tiga hari lalu baru genap berusia dua tahun tengah bermain sendiri. Lantai rumah yang sehabis Isya tadi baru Ambu pel dengan karbol wangi sereh nampak sudah lengket lagi. Tiap langkah Dedek meninggalkan bulir-bulir nasi kecoklatan. Dari depan sampai belakang, kemana pun langkah menapak, akan ada sesuatu yang menempel. Menjengkelkan. Tapi tak mengapa. Ambu terhitung masih sabar. Walau raga mulai ingin merebahkan punggung yang seharian dipakai untuk mencari pahala-Nya.

Sampai tiba saatnya Ambu sedang meneguk air mineral bak unta. Tentu ini bukan hal baik yang patut ditiru. Namun kadang begitulah cara Ambu melepas dahaga. Meneguk air yang melewati kerongkongan dengan tergesa. Satu mili detik saja begitu berharga. Ada dua nyawa yang harus selalu diawasi di depan mata.
"Mbu, ini mie gorengnya masih ada. Abisin, Mbu..."
Suara Abah memecah konsentrasi Ambu yang masih memegang gelas plastik berwarna biru. Ambu lihat ada se-sendok mie lagi. Tega ya, Abah. Segitu mana cukup 😂. Tapi Ambu apresiasi tawaran Abah yang mengingat istrinya ketika ada 'last bite' di piring itu. Ambu terpaksa tolak tawaran tersebut.
"Ambu udah kenyang, Bah... Ini udah minum juga ba--"
Belum selesai berbincang dengan Abah yang masih mengunyah mie tiba-tiba terdengar suara keras:

"JEDAAAAAAK!"

Diiringi tangisan histeris yang sungguh sangat familiar di kedua indera pendengaran kami. Ya. Suara tangis Aa dan Dedek. Ambu berbalik sambil melihat kedua anak kesayangan Ambu terduduk hanya berjarak sekitar satu meter saja antara satu dan lainnya.
Dedek yang memegangi kening serta Aa yang meraung-raung menandakan ia lebih sakit akan tragedi tabrakan balita dan batita ini.

Jantung Ambu berdegup kencang. Panik. Namun berusaha menguasai diri. Ambu lihat Dedek, sepertinya masih kondusif. Tangisnya mulai mereda. Lain halnya dengan Aa, tangisnya makin kencang. Benar saja, setelah Ambu cek, darah mengalir dari ujung kiri atas bibir mungilnya. Kaget. Namun Ambu masih berusaha tenang. Selagi Ambu berusaha menekan luka tersebut dengan ujung piyama Ambu, konsentrasi Ambu terpecah. Ambu menangkap kepanikan Abah melalui rentetan kalimat yang keluar dari bibir mungilnya juga. Iya, anak dan bapak satu genetik memang pada perkara morfologi bibirnya.
"Makanya kata Abah juga kalau udah malem itu jangan lari-lari. Aa kok rese sih kalo ngantuk, tidur aja makanya. Kalau udah gini kan Aa juga yang sakit..."

"SSSSSSHHHHH! Udah, Bah. Anak lagi kesakitan ini, Abah ngomong sampai nge-busa juga ga akan nyampe", Ambu balik ngegas ke suami sendiri. Astaghfirulloh...
Harusnya istri tetep tenang, sih. Tapi Ambu terlalu ketakutan akan darah yang terus mengalir. Ambu bergegas menuju kulkas dengan sedikit harapan. Ambu berniat ambil es batu tapi Ambu tau bahwa baru sore tadi 'ice tray' dibekukan di freezer. Itu pun dengan melibatkan Aa agar ia belajar konsentrasi saat mengisi kotak per kotak wadah es dengan air matang. Tapi Ambu tetap optimis bahwa sudah ada es yang membeku. Tadaaa!
Hanya ada pecahan es yang Ambu congkel sekenanya. Pecah. Tapi Ambu bawa serpihan es tersebut lalu digulung dengan ujung piyama Ambu untuk ditekankan pada luka Aa tadi. Selagi Ambu mengambil es, Ambu lihat Abah masih panik dengan cara terus 'menceramahi' Aa. Hati Ambu ga karuan. Ambu fokus mau ngobatin luka di bibir Aa namun Abah terus berkata-kata.
"Udah, Bah... Tolong, ya. Kasian ini Aa, masa habis jatuh harus dimarahin juga."
Oh iya Aa lupa diceritain. Dia tetap mengerang kesakitan. Memang kalau Aa sakit, dia tipe yang begitu aktif dalam mengekspresikan rasa sakitnya. Ambu usap air matanya. Ambu fokus untuk menekan luka tadi agar darahnya berhenti mengalir.
Dedek?
Bagaimana dengan Dedek?
Ya Alloh... Ambu kelupaan kalau ada 'korban adu banteng' satu lagi yang cedera. Soalnya Dedek nangisnya bentar, sih. Dia kebetulan tipe yang tahan banting. Nangis secukupnya, malah seringnya tak berurai air mata. Nangis buaya, De?
Ehehe. Ambu bercanda, kok. Ambu lihat keningnya sudah benjol tapi dia ga nangis. Lalu Ambu minta tolong Abah untuk menangani Dedek. Abah bertugas untuk mengambilkan semacam balsem yang ditengarai manjur untuk dioleskan ke area yang benjol. EH TERNYATA ABAH MASIH DIEM DI SITU AJA SAMBIL NGOMEL-NGOMEL (sabar, Ambu! Inget, malam hari itu Ambu udah 'lowbatt', udah ga ada energi buat ngomel apalagi ngomelin suami. Baek-baek ridho suami bisa mengantarkan istri ke surga, lho...)
"Abah, tolongin Si Dedek dulu, ya... Makasih..."

Aa masih nangis aja. Ya Alloh... Emang jadi bengkak itu bibirnya. Aduh, Sayang...
Yaudah kita hadapi ini bersama-sama, ya. Di fase ini alhamdulillah darah sudah berhenti mengalir. Tapi tdak dengan air mata Aa. Dia masih menangis sesenggukan seakan dunia harus tau kalau ia sedang menahan luka.
"Iya, Sayang... Emang sakit ya kan kejeduk ini..."
Dengan erat Aa memeluk Ambu. Menangis lagi semakin kencang seakan meluapkan segala beban di bahu ibundanya tersayang. Sini, Nak. Ini janji ibumu ketika engkau masih di dalam rahim bahwa akan selalu ada Ambu yang dengan sekuat tenaga menemani segala keadaanmu. Ambu hanya mengelus punggung kecilnya. Ambu terima segala emosinya. Sampai akhirnya ia meminta untuk merebahkan diri di bantal biru kamar utama. Tak lama menyusul Dedek yang juga sudah harus tidur walau kelihatannya masih bertenaga. Maklum, lepas maghrib ia ketiduran. Entahlah agenda apa yang direncanakan kedua anak tersebut di hari ahad yang cerah ini. Keduanya menolak tidur siang. Ckckck. Sleep is for the weak, huh?

Waktu menunjukkan pukul 21.08 itu artinya Ambu sudah mulai tenang. Tenang?
Tentu tidak.
Atas kejadian menegangkan tadi, butuh waktu lebih bagi Ambu untuk menenangkan diri. Bagaimana caranya?
Liburan ke Maldives misalnya. Hush. Halu nih ya, Ambu. 😅
Ambu tarik nafas. Hembuskan. Lalu beristighfar dalam hati. Ambu lihat Aa sudah mulai terlelap. Dedek pun mulai menguap.

Anak-anakku...
Qurrota A'yun-ku...
Malam ini yang satu tidur dengan bibir jontor dan yang lainnya tidur dengan kening benjol. Prok prok prok. Hebat ya kalian. Kuat!
Maasyaa Alloh Tabarokalloh...

Ambu lihat Abah melipir ke kamar anak, ga kuat, ngantuk katanya. Walau Ambu intip sih jemarinya masih sibuk scrolling menyentuh layar ponsel pintarnya.

Sementara Ambu di sini...
Masih berusaha mencerna akan apa yang baru saja terjadi. Ambu reka ulang.

Ambu lagi minum dan...
BOOM!
Silakan kembali ke paragraf sebelas...


Salam,
Ambu Mande.

p.s.
Berikut dokumentasi dari kisah kali ini. Ampun deh Ambu, kejadian kayak gini aja sampai dijadikan konten blog. Eits, insyaa Alloh dalam proses pembuatan blog ini tidak ada yang tersakiti, kok. Maksudnya, Ambu berhak menulis gini sebagai bentuk luapan emosi Ambu, shocked atulah kalau lihat anak berdarah. (Cukup, Mbu. Jangan curhat mulu... Hahaha...)

                                                 Ouch! 

                                           Noda darah di piyama Ambu


 Remah-remah nasi saksi bisu di rumah


                              Abah menangani Dedek


 Dedek benjol

                                      Aa dan Dedek bersiap tidur



                                              Aa jontor


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan santun ber-komentar!